Wamen Fajar Apresiasi Capaian Pendidikan di Kota Dumai
kurikulum
11 June 2026
5 Dilihat
Dumai, – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq mengapresiasi capaian pendidikan di Kota Dumai. Hal itu dapat terlihat, indikator pendidikan di Kota Dumai menunjukkan perkembangan yang positif. Berdasarkan data BPS Kota Dumai, rata-rata lama sekolah (RLS) meningkat dari 10,15 tahun pada 2022 menjadi 10,29 tahun pada 2024 dan 10.30 pada tahun 2025. sedangkan Harapan Lama Sekolah tahun 2025 telah mencapai 13.36 pada tahun 2025.
“Data BPS ini memperlihatkan capaian pendidikan di Kota Dumai telah melampaui nasional, “ kata Wamen Fajar..
Capaian pendidikan di Kota Dumai ini tak terpelas dari realisasi Penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) di Kota Dumai. Pada tahun 2026, sampai Bulan Mei, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyalurkan bantuan pendidikan melalui Program Indonesia Pintar (PIP) kepada sebanyak 7.579 murid di Kota Dumai, Propinsi Riau.
Dengan total anggaran lebih dari Rp4,6 miliar yang telah disalurkan di Kota Dumai, penyaluran PIP tersebut menyasar 4.195 murid jenjang SD, 2.135 murid jenjang SMP, 584 murid jenjang SMA, dan 665 murid jenjang SMK.
Para siswa penerima PIP mengakui kebermanfaatan uang PIP dalam meringankan beban orangtuanya untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Jolin, murid kelas 9 di SMP Maitreyawira, mengungkapkan, dana PIP yang diterima sepenuhnya ia gunakan untuk membayar biaya sekolah sehingga sedikit mengurangi beban orang tuanya.
Jolin mengungkapkan bahwa dirinya mulai menerima PIP sejak duduk di kelas delapan. Informasi PIP pertama kali ia dapatkan dari pihak sekolah yang kemudian membantunya dalam proses administrasi, aktivasi rekening hingga pencairan PIP.
“Waktu itu saya dipanggil ke ruang guru dan diberi surat untuk dibawa ke bank. Setelah itu saya menginformasikan ke orang tua dan melakukan aktivasi rekening sampai uang bantuan PIP bisa diterima,” kata Jolin.
Dampak PIP juga dirasakan oleh Aprillia Givanny, murid SMK Maitreyawira jurusan Akuntansi. Anak kedua dari tiga bersaudara itu menerima bantuan PIP di kelas 10 SMK, dikatakan Givanny, PIP mampu menutupi sebagian kebutuhan pendidikan dan biaya penunjang sekolahnya.
Diceritakan Aprillia, ia menerima PIP diawali dari pendataan kondisi ekonomi keluarga yang dilakukan sekolah saat registrasi masuk SMK. Ayahnya bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran dan ibunya baru mulai bekerja setelah sebelumnya berfokus mengurus keluarga.
“Kadang kondisi ekonomi keluarga naik turun. Saat sedang sulit, bantuan PIP benar-benar membantu untuk memenuhi kebutuhan pendidikan maupun kebutuhan lainnya,” tutur April.
Senada dengan Jolin dan April, PIP juga berdampak dan memotivasi Alan Seven Cordiassimus Dakhi untuk menjadi ahli teknologi di masa depan.Siswa SMK Maitreyawira itu merupakan seorang anak yang lahir dari keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai buruh, sementara ibunya merupakan seorang ibu rumah tangga. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Alan memahami pentingnya pendidikan sebagai jalan untuk meningkatkan taraf hidup dan ekonomi keluarga.
Baginya, PIP tidak hanya memberikan dukungan secara finansial, tetapi juga menjadi motivasi untuk belajar lebih giat dan meraih cita-cita. Lebih lanjut, Alan telah menerima PIP sejak SD, namun sempat terhenti saat masuk jenjang SMP, dan kemudian ia kembali mendapatkan PIP ketika bersekolah di SMK.
Dengan PIP ini, saya semakin semangat belajar dan ingin menata masa depan yang lebih baik untuk membantu meningkatkan kondisi ekonomi keluarga. Setelah lulus SMK, saya ingin kuliah di jurusan Teknik Informatika agar saya bisa menjadi seorang Developer Program,” tutup Alan.
Integrasi PKH, PIP dan KIP Kuliah
Kepala Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik), Adhika Ganendra, mengatakan, program PIP akan diintegrasikan dengan Program Keluarga Harapan (PKH) milik Kementerian Sosial dan KIP Kuliah milik Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi.
“Dengan pengintegrasian itu, siswa yang keluarganya terdaftar sebagai penerima bansos PKH, akan otomatis menerima PIP dan setelah menerima PIP, jika lolos seleksi perguruan tinggi, baik melalui jalur SNBP, SNBT atau jalur lainnya, akan otomatis menerima KIP Kuliah, tanpa harus diseleksi lagi,” katanya.
Pada tahun 2026 ini, ada sebanyak 45.809 penerima PIP jenjang SMA yang menerima KIP Kuliah diperguruan tinggi negeri, yakni 23.814 siswa di jalur SNBT dan 21.995 sisw di jalur SNBP.
Selanjutnya, dikatakan Adhika, mulai tahun ajaran 2026/2027, cakupan PIP akan diperluas, yakni menyasar siswa Taman Kanak-Kanak Perluasan PIP ini untuk mendukung program Wajib Belajar 13 tahun.Untuk tahun 2026 ini, sasaran PIP jenjang TK adalah sebanyak 888.000 siswa TK.
“Perluasan PIP ini untk memastikan akses pendidikan bagi keluar
“Data BPS ini memperlihatkan capaian pendidikan di Kota Dumai telah melampaui nasional, “ kata Wamen Fajar..
Capaian pendidikan di Kota Dumai ini tak terpelas dari realisasi Penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) di Kota Dumai. Pada tahun 2026, sampai Bulan Mei, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyalurkan bantuan pendidikan melalui Program Indonesia Pintar (PIP) kepada sebanyak 7.579 murid di Kota Dumai, Propinsi Riau.
Dengan total anggaran lebih dari Rp4,6 miliar yang telah disalurkan di Kota Dumai, penyaluran PIP tersebut menyasar 4.195 murid jenjang SD, 2.135 murid jenjang SMP, 584 murid jenjang SMA, dan 665 murid jenjang SMK.
Para siswa penerima PIP mengakui kebermanfaatan uang PIP dalam meringankan beban orangtuanya untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Jolin, murid kelas 9 di SMP Maitreyawira, mengungkapkan, dana PIP yang diterima sepenuhnya ia gunakan untuk membayar biaya sekolah sehingga sedikit mengurangi beban orang tuanya.
Jolin mengungkapkan bahwa dirinya mulai menerima PIP sejak duduk di kelas delapan. Informasi PIP pertama kali ia dapatkan dari pihak sekolah yang kemudian membantunya dalam proses administrasi, aktivasi rekening hingga pencairan PIP.
“Waktu itu saya dipanggil ke ruang guru dan diberi surat untuk dibawa ke bank. Setelah itu saya menginformasikan ke orang tua dan melakukan aktivasi rekening sampai uang bantuan PIP bisa diterima,” kata Jolin.
Dampak PIP juga dirasakan oleh Aprillia Givanny, murid SMK Maitreyawira jurusan Akuntansi. Anak kedua dari tiga bersaudara itu menerima bantuan PIP di kelas 10 SMK, dikatakan Givanny, PIP mampu menutupi sebagian kebutuhan pendidikan dan biaya penunjang sekolahnya.
Diceritakan Aprillia, ia menerima PIP diawali dari pendataan kondisi ekonomi keluarga yang dilakukan sekolah saat registrasi masuk SMK. Ayahnya bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran dan ibunya baru mulai bekerja setelah sebelumnya berfokus mengurus keluarga.
“Kadang kondisi ekonomi keluarga naik turun. Saat sedang sulit, bantuan PIP benar-benar membantu untuk memenuhi kebutuhan pendidikan maupun kebutuhan lainnya,” tutur April.
Senada dengan Jolin dan April, PIP juga berdampak dan memotivasi Alan Seven Cordiassimus Dakhi untuk menjadi ahli teknologi di masa depan.Siswa SMK Maitreyawira itu merupakan seorang anak yang lahir dari keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai buruh, sementara ibunya merupakan seorang ibu rumah tangga. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Alan memahami pentingnya pendidikan sebagai jalan untuk meningkatkan taraf hidup dan ekonomi keluarga.
Baginya, PIP tidak hanya memberikan dukungan secara finansial, tetapi juga menjadi motivasi untuk belajar lebih giat dan meraih cita-cita. Lebih lanjut, Alan telah menerima PIP sejak SD, namun sempat terhenti saat masuk jenjang SMP, dan kemudian ia kembali mendapatkan PIP ketika bersekolah di SMK.
Dengan PIP ini, saya semakin semangat belajar dan ingin menata masa depan yang lebih baik untuk membantu meningkatkan kondisi ekonomi keluarga. Setelah lulus SMK, saya ingin kuliah di jurusan Teknik Informatika agar saya bisa menjadi seorang Developer Program,” tutup Alan.
Integrasi PKH, PIP dan KIP Kuliah
Kepala Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik), Adhika Ganendra, mengatakan, program PIP akan diintegrasikan dengan Program Keluarga Harapan (PKH) milik Kementerian Sosial dan KIP Kuliah milik Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi.
“Dengan pengintegrasian itu, siswa yang keluarganya terdaftar sebagai penerima bansos PKH, akan otomatis menerima PIP dan setelah menerima PIP, jika lolos seleksi perguruan tinggi, baik melalui jalur SNBP, SNBT atau jalur lainnya, akan otomatis menerima KIP Kuliah, tanpa harus diseleksi lagi,” katanya.
Pada tahun 2026 ini, ada sebanyak 45.809 penerima PIP jenjang SMA yang menerima KIP Kuliah diperguruan tinggi negeri, yakni 23.814 siswa di jalur SNBT dan 21.995 sisw di jalur SNBP.
Selanjutnya, dikatakan Adhika, mulai tahun ajaran 2026/2027, cakupan PIP akan diperluas, yakni menyasar siswa Taman Kanak-Kanak Perluasan PIP ini untuk mendukung program Wajib Belajar 13 tahun.Untuk tahun 2026 ini, sasaran PIP jenjang TK adalah sebanyak 888.000 siswa TK.
“Perluasan PIP ini untk memastikan akses pendidikan bagi keluar